Selasa, 01 Juni 2010

Hadis Terhadap Orang Tua

ambahan hadist-hadist yang menyangkut Ahlak Terhadap Orang Tua

Haditspertama:

Dari Abdullah Bin Mas'ud berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah: "Amalan apakah yang dicintai oleh Allah" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Jihad dijalan Allah". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Haditskedua:

Dari Abdullah Bin Mas'ud berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah: "Amalan apakah yang dicintai oleh Allah" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Jihad dijalan Allah". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Haditsketiga:

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: "Berbaktilah kepada bapakbapak kamu niscaya anak-anak kamu akan berbakti kepada kamu. Hendaklah kamu menjaga kehormatan niscaya istri-istri kamu akan menjaga kehomatan". (HR. Ath-Thabrani dengan sanad hasan).

Haditskeempat:

Dari Asma binti Abu Bakar ia berkata: "Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah . Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah dengan mengatakan: "Ibuku mendatangiku dan dia menginginkan aku (berbuat baik kepadanya), apakah aku (boleh) menyambung (persaudaraan dengan) ibuku" beliau bersabda: "ya, sambunglah ibumu". (HR. Al-Bukhari dan Mus lim).

Imam Syafi'i Rahimahullah berkata: "Menyambung persaudaraan itu bisa dengan harta, berbakti, berbuat adil, berkata lemah lembut, dan saling kirim surat berdasarkan hukum Allah. Tetapi tidak boleh dengan memberikan walayah (kecintaan dan pembelaan) kepada orang-orang yang terlarang untuk memberikan walayah kepada mereka (orang-orang kafir)...."

Ibnu Hajar Rahimahullah bekata: "Kemudian bahwa berbakti, menyambung persaudaraan dan berbuat baik itu tidak mesti dengan mencintai dan menyayangi (terhadap orang kafir walaupun orang tuanya) yang hal itu dilarang di dalam firman Allah : Kamu tidak akan menjumpai satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. (Al-Mujadilah: 22), karena sesungguhnya ayat ini umum untuk (orang-orang kafir) yang memerangi ataupun yang tidak memerangi". (Fathul Bari V/ 233).

Dalam kitabul 'Isyrah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Sa'ad bin Malik , dia berkata: "Dahulu aku seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku. Setelah masuk Islam, ibuku berkata: "Hai Sa'ad! Apa yang kulihat padamu telah mengubahmu, kamu harus meninggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu kamu dipermalukan karenanya dan dikatakan: Hai pembunuh ibu!" Aku menjawab: "Hai Ibu! Jangan lakukan itu". Sungguh dia tidak makan, sehingga dia menjadi letih. Tindakannya berlanjut hingga tiga hari, sehingga tubuhnya menjadi letih sekali. Setelah aku melihatnya demikian aku berkata: "Hai Ibuku! Ketahuilah, demi Allah, jika kamu punya seratus nyawa, lalu kamu menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun. Engkau dapat makan maupun tidak sesuai dengan kehendakmu". (Tafsir Ibnu Katsir III/791).

Haditskelima:

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi'ah As-Sa'idi berkata: "Ketika kami sedang duduk dekat Rasulullah , tiba-tiba datang seorang laki-laki dari (suku) Bani Salamah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, apakah masih ada sesuatu yang aku dapat lakukan untuk berbakti kepada kedua orangtuaku setelah keduanya wafat Beliau bersabda: "Ya, yaitu mendoakan keduanya, memintakan ampum untuk keduanya, menunaikan janji, menyambung persaudaraan yang tidak disambung kecuali karena keduanya, dan memuliakan kawan keduanya". (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban di dalam sahihnya)

Haditskeenam:

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu (dari perbuatan) durhaka kepada para ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan apa yang menjadi kewajibanmu untuk diberikan, dan menuntut apa yang tidak menjadi hakmu. Allah juga membenci tiga hal bagi kamu desas-desus, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta. (HR. Al-Bukhari dan lainnya)

Jumat, 28 Mei 2010

Palang Merah Membela Program Pertolongan Pertama Untuk Mujahidin?

JENEWA (Arrahmah.com) - Palang Merah Internasional pada hari Rabu (26/5) mengatakan bahwa pihaknya akan terus memberikan pertolongan pertama bagi siapapun, termasuk mujahidin Afghanistan, meskipun sebuah media melaporkan bahwa keputusan itu telah menyebabkan kemarahan seluruh dunia dan kritik dari seorang pejabat Afghanistan.

Komite Palang Merah Internasional telah memberikan pelatihan pertolongan pertama pada lebih dari 70 anggota oposisi bersenjata bulan lalu, bersama dengan lebih dari 100 polisi Afghanistan dan warga sipil, termasuk sopir taksi. Pelatihan dimulai pada tahun 2006 dan Palang Merah Internasional memutuskan akan terus melanjutkan aktivitasnya selama mereka dibutuhkan, kata juru bicara Palang Merah Cardon Kristen.

Perjalanan ke beberapa rumah sakit berfungsi Afghanistan seringkali sulit atau hampir mustahil, bahkan makna pertolongan pertama dasar dapat membantu menyelamatkan nyawa, kata Cardon. Dia menambahkan bahwa program tiga-hari juga adalah kesempatan untuk menunjukkan peserta perlu mematuhi Konvensi Jenewa yang mengatur perilaku perang.

Harian Inggris, Guardian, pada Selasa mengutip seorang pejabat pemerintah daerah tak dikenal di Kandahar yang mengkritik pelatihan tersebut, dan mengatakan bahwa mujahidin "tidak layak diperlakukan seperti manusia."

"Kami tidak pernah meminta orang-orang yang datang bercerita tentang latar belakang mereka," kata Cordon. "Ini adalah cara kami bekerja di mana-mana, termasuk di Afghanistan."

Cordon pun menjelaskan bahwa hal serupa mereka lakukan di Gaza, dan yang mengikuti pelatihan pertolongan pertama juga termasuk anggota Hamas dan kelompok Palestina lainnya.

Namun demikian, "jika kita mendapatkan keluhan dari pemerintah daerah, kami akan pergi dan menemui mereka untuk menjelaskan bahwa seperti inilah cara kami bekerja dan akan terus seperti ini," katanya. "Kami sangat yakin bahwa laporan itu tidak akan mempengaruhi kegiatan kami." (althaf/ans/arrahmah.com)

Jumat, 21 Mei 2010

Hadis tentanng Sholat

Hadis tentanng Sholat


Rosulluloh SAW Bersapda :

Barang siapa meng hadap Allah ( Meniggalkan Dunia )sedangkan ia biyasa melalaikan Sholat nya , maka Allah tidak akan memperdulikan sedikitpun perbuatan baik nya ( yang telah iya kerjakan tersebut ). ( H.R Tabrani )

Penjelasan :

Apa bila seorang yang berbuat baik kepada orang lain tapi tidak mendirikan Sholat nya atau meninggalkan Sholat nya maka Allah tidak kan memper dulikan sedikit pun Perbuatan Baik nya.


Sholat itu bikin otak kita Sehat maka dirikanlah Sholat maka dirikanlah Sholat karena Tuhanmu dan Berqurbanlah ( Q.S Al Kautsar )

Penjelasan nya :

Jadi apa bila kita mendirikan Sholat 5 Waktu otak kita akan sehat maka dan sholatlah karena Allah dan disamping otak kita Sehat kita juka dapat pahala.


Rosulluloh SAW Bersapda :

Perjanjian kita dengan ( orang Munafik ) adalah sholat barang siapa meninggalkan Sholat maka sesungguhnya dia telah Kafir ( H.R Ahmad , Hadis Shahin )

Penjelasan nya :

Kita dianjurkan Sholat karena kalo kita tidak sholat kita akn kafir karena kita telah mengadakan perjanjian kepada orang munafik adalah sholat apa bila kita meninggal kan sholat kata temasuk orang munafik .

Maka dating sesudah mereka pengganti ( yang jelek ) yang menyia-nyiakan Sholat dan memperturutkan hawa nafsu , maka kelak mereka menemui ke Sesat , kecuali orang-orang yang bertaubat , beriman dan ber amal Soleh. ( Q . S Maryam 59-60 )

Penjelasan nya :

Makna menyia-nyiakan Sholat adalah bukan meninggalkan sama sekali , tapi mengingkarinya dari waktu yang seharus nya.

Jumat, 14 Mei 2010

Kisah Muslimah Pejuang Quran

Kesibukan dan rutinitas kerja yang tiada habisnya, sering menjadikan hati meranggas, kosong dan gersang dari nilai-nilai yang menyejukkan iman. Ini jugalah yang dirasakan beberapa muslimah yang bekerja di gedung perkantoran kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Mereka merasakan suatu kebutuhan yang dapat memuaskan rasa dahaga jiwanya, di tengah kecukupan akan pemuas dahaga dunianya. Mereka mendamba keluasan hati laksana samudera, kesejukan jiwa laksana dedaunan penuh embun di pagi hari, dan ketentraman batin laksana bunyi deru ombak menerjang pantai.

Ketika mereka membaca dan mendengar tentang keutamaan membaca Al-quran dari ceramah-ceramah yang didengarnya, hati mereka pun makin jatuh hati dan ingin segera menjadikan Al-quran sebagai pengisi sisi ruang batinnya yang gersang itu. Sudah masyhur di tengah perbincangan mereka bahwa bagi yang membaca Al-quran, maka satu huruf yang dibacanya berbalas dengan sepuluh kebaikan.

Dan bukanlah “Alif Lam Mim” itu satu huruf, akan tetapi “Alif” satu huruf, “Lam” satu huruf, dan “Mim” satu huruf. Luar biasa, dengan membaca “Alif Lam Mim” saja, pembaca Al-quran sudah mendapatkan tiga puluh kebaikan. Bagaimana dengan membaca lebih dari itu? Bagaimana pula jika ayat-ayat itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari? Tentu, pribadi-pribadi yang dihiasi dengan nilai Al-quran akan memancarkan kedamaian dan kesejukan yang luar biasa. Di dadanya penuh kebaikan. Dan kebaikan itu, laksana wewangian yang aromanya semerbak dan menyebar ke orang lain.

Sungguh indah gambaran seorang pembaca Al-quran, pohonnya bagus dan buahnya wangi. Itu adalah balasan Allah di dunia. Dan di akhirat Al-quran akan memberikan syafaat bagi pembacanya sehingga ia terhindar dari jilatan api neraka yang menyala-nyala. Hati orang-orang beriman jelas tersentuh mendengar kabar gembira ini, dan terpacu motivasi untuk segera mewujudkannya.

Kabar keinginan dan hasrat belajar baca Al-quran dari ibu-ibu muslimah itu pada akhirnya sampai ke Aisyah, guru tahsin quran di kawasan Iqra’ Islamic Center Bekasi. Aisyah mencoba membawa keinginan mereka itu ke lembaga yang menaunginya. Beberapa guru teman Aisyah berkeberatan memenuhi keinginan ibu-ibu di gedung perkantoran di Jalan Thamrin karena lokasinya yang cukup jauh sehingga dibutuhkan waktu dan energi yang cukup besar untuk dikorbankan.

Sementara mereka mengetahui bahwa honor mengajar baca Al-quran itu tidaklah seberapa. Barangkali, guru-guru itu lebih nyaman mengajar di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, yang tidak menyita waktu begitu besar, sehingga masih bisa memantau keadaan anak-anak yang diasuhnya. Ya, kebanyakan guru-guru tahsin itu memang sudah berkeluarga dan memiliki beberapa anak. Inilah barangkali kondisi yang belum mencapai titik temunya dan menjadi penghalang penyebaran laju nilai-nilai Al-quran, khususnya di kalangan muslimah perkantoran.

Bagi Aisyah, keinginan belajar dari ibu-ibu di perkantoran itu ibarat benih yang harus dipelihara dan disediakan media pertumbuhannya. Alangkah sayangnya jika benih itu dibiarkan mati sebelum ditanam. Bukankah dakwah itu sejatinya menumbuh-suburkan kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain? Dan bukankah setiap usaha mengajak orang pada kebaikan membutuhkan pengorbanan?

Aisyah sangat memahami kondisi itu. Maka meski dirasakannya cukup berat, dia melangkahkan kaki ke gedung perkantoran tersebut menyambangi ibu-ibu yang dahaga dengan bacaan Al-quran. Kadang untuk pergi ke sana, tidak segan ia menumpang taksi untuk mengejar ketepatan waktu pembelajaran.

Terkadang pula, ia harus berhimpit-himpitan beberapa kali naik moda transportasi, menahan lelah akibat mengurus anak-anak sebelumya dan berjuang melawan asap rokok dan debu-debu yang beterbangan di sekelilingnya. Ya, kondisi badannya memang rentan. Ia mengidap penyakit asma. Tetapi kecintaan kepada ibu-ibu yang mendamba oase iman dari lautan kalam Ilahi itu, menjadikannya harus melupakan kondisi berat yang kadang dijumpainya.

Mengetahui bahwa keinginan mereka terwujud, Ibu-ibu di gedung perkantoran itu bahu membahu menyediakan waktu luang dan tempat yang memadai untuk belajar baca Al-quran. Mereka berpatungan untuk mendukung operasional kegiatan. Layaknya organisasi mereka membentuk ketua, bendahara, dan sekretaris.

Mereka bersyukur bisa mendatangkan seorang guru karena untuk datang sendiri-sendiri ke lembaga tahsin pada hari Sabtu atau Ahad, bagi mereka adalah suatu pekerjaan yang teramat berat. Mereka merasa harus siaga di rumah mendampingi suami dan anak-anak, sebagai kompensasi ketidakhadiran mereka pada hari-hari lainnya akibat bekerja di kantor.

Dan kini, Alhamdulillah mereka merasakan indahnya hidup bersama Al-quran. Pucuk dicinta, ulam tiba. Demikian bunyi peribahasa yang boleh jadi menggambarkan perasaan mereka yang dipenuhi kesyukuran bisa belajar membaca Al-quran.

***

“Sebaik-baik kamu adalah yang belajar quran dan mengajarkannya”. Demikian seruan Rasulullah SAW kepada ummatnya. Seruan itu bergema sejak sekitar empat abad yang silam ketika beliau berpeluh keringat mengorban jiwa raga memperjuangkan nilai-nilai Al-quran. Kini, betapa sedikit umat yang menyambut seruannya bahkan sekedar untuk membaca sekalipun.

Ironisnya, di kantong-kantong yang menyambut seruan untuk belajar membaca Al-quran, di sana tidak ditemukan seorang guru yang memadai. Dan untuk itu harus mendatangkan guru yang berasal dari luar. Kondisi yang terjadi pada kisah pejuang quran di atas, tidaklah terjadi manakala distribusi kemampuan membaca Al-quran telah tersebar merata di tengah-tengah ummat.

Beberapa tahun program pengajaran itu berjalan. Kabarnya, kini Aisyah karena kondisi kesehatannya, sudah tidak memungkinkan lagi melakukan pengajaran di kantor-kantor yang masih membutukan guru tahsin itu. Sementara mereka tetap dahaga dan selalu mendambakan untuk bisa membaca Al-quran demi meraih keutamaan yang besar darinya. Cerita yang cukup tragis dan berlalu begitu saja tanpa solusi. Rasanya cukup menyedihkan.

Terlepas dari cerita yang kurang menyenangkan tersebut, manfaat dan keutamaan dari interaksi dengan Al-quran memang tidak bisa kita ragukan lagi. Berkaca pada kehidupan Rasulullah SAW dan sahabat, mereka adalah contoh generasi Al-quran yang merupakan generasi terbaik yang pernah ditampilkan dalam kehidupan ini.

Mereka dijuluki juga generasi Al-quran, karena nilai-nilai Al-quran benar-benar membumi dan dijadikan referensi dalam memecahkan permasalahan kehidupan. Waallahu’alam, sepertinya generasi ini tidak akan pernah ditampilkan lagi dalam panggung kehidupan ini. Mereka menjadi contoh abadi bagi ummat setelahnya hingga datang yaumil akhir nanti.

Namun demikian, hendaknya tidak ada kata menyerah untuk mencontoh dan mewujudkan generasi seperti mereka itu. Allah tidak akan menilai dari hasil akhir tentang seberapa jauh generasi itu akan menyerupai generasi mereka, akan tetapi Allah akan nilai segala upaya-upaya yang telah dilakukan.

Yang menjadi renungan, apakah ummat secara umum memiliki mental pembelajar seperti ibu-ibu di kawasan perkantoran Thamrin itu ataukah guru secara umum memiliki mental pejuang seperti kisah Aisyah di atas?

Sungguh indah jika dua kondisi di atas bertemu. Insya Allah, di tengah kegalauan akibat kesimpangsiuran informasi dan instabilitas ekonomi ini, kita masih bisa berharap ada secercah cahaya bagi turunnya keberkahan dari langit yang menaungi ummat ini. Keberkahan yang menjauhkan ummat dari segala musibah dan fitnah. Keberkahan yang menjadikan ummat ini makin kuat melawan hegemoni asing yang berkuasa.

Waalahua’lamu bishshawaab
Muhammad Rizqon
(rizqon_ak@eramuslim.com)

Di Balik Perang Melawan Teroris Ala Amerika Serikat

Beberapa hari terakhir, isu terorisme kembali menyeruak, banyak pihak menganggapnya hanyalah sebuah rekayasa belaka dengan berbagai macam tujuannya. Hal ini di dasari karena memang seringkali banyak kejanggalan-kejanggalan aneh dan peristiwa lucu ketika terjadi peristiwa teror maupun saat penyergapan teroris tersebut. Berkembang di masyarakat, salah satunya, isu teroris kali ini hanyalah untuk mengalihkan isu kasus skandal Bank century. Namun terlepas dari semua itu, adalah penting kiranya kita mengetahui sekilas tentang war on teroris yang dilancarkan oleh AS dan sekutunya.

War on Terrorist sejatinya hanyalah topeng untuk memerangi Islam, hal ini terbukti dari beberapa fakta yang terekam dilapangan, bahwa AS lebih banyak menginvasi ke negri-negri Islam, daftar terorist mayoritas adalah ummat Islam. Sangat aneh ketika Israel yang jelas-jelas melakukan tindakan teror terhadap warga Palestina tidak dicantumkan ke daftar teroris, sedangkan Hamas dalam mempertahankan negrinya untuk mengusir penjajah Zionis dimasukkan dalam daftar teroris mereka. Bukti lain, mayoritas korban adalah masyarakat Islam, mereka juga sering menggunakan istilah; teroris Islam, militan Islam, Radikal Islam. Hal yang tidak disematkan kepada Teroris yahudi (Israel), Teroris hindu (macan tamil), bahkan kalau mereka mau jujur, mereka sangat layak menyandang gelar teroris kristen.

Pasca runtuhnya komunis yang dipimpin Uni Soviet, satu-satunya ancaman terhadapap dominasi Amerika Serikat terhadap dunia dengan Ideologi kapitalismenya, otomatis hanyalah tinggal Islam, dengan catatan Islam diterapkan sebagai sebuah Ideologi. Samuel P hatington dalam bukunya “who are you?” mengatakan ” bagi barat, yang menjadi musuh utama bukanlah fundamentalis Islam,tapi Islam itu sendiri”. Sedangkan menurut mereka Ideologi Islam memiliki beberapa kriteria, yakni seperti yang diungkap Mantan PM inggris Tony Blair saat konggres buruh (16/ Juli/2006). Ia menjelaskan ”Islam sebagai Ideologi Iblis: ingin mengeliminasi Israel, menjadikan syariat sebagai sumber hukum, menegakkan khilafah dan bertentangan dengan nilai-nilai liberal.”

Maka dari itu, untuk membendung potensi pesaing ini, Amerika Serikat melakukan berbagai cara guna menaggulanginya. Bermacam kebijakan mereka tempuh, salah satunya dengan melakukan invasi militer secara langsung terhadap negri-negri Islam, selain itu, mereka juga melancarkan perang pemikiran (ghoswul fikri) secara masif sehingga terbukti lumayan ampuh membuat umat Islam sendiri meninggalkan Ideologinya, termasuk menanamkan antek-anteknya diberbagai negara untuk memuluskan niat jahat mereka.

Kebijakan perang fisik mereka gunakan untuk melumpuhkan seteru-seteru Ideologi mereka dikawasan Timor tengah dan lainnya, sedangkan kebijakan perang non fisik (perang pemikiran) di tempuhnya di seluruh negri Islam, baik yang di duduki secara militer maupun tidak.

Di Indonesia Pemikiran Amerika (barat) telah berhasil merengsek masuk ke berbagai sendi kehidupan, ( Ekonomi, sosial, budaya, politik ,dst). Untuk mensukseskan upayanya ini mereka juga menciptakan kader-kader intelektual dari tubuh kaum Muslim itu sendiri yang telah di cuci otaknya sehingga mindset berfikirnya pun telah berubah menjadi mindset berfikir yang bukan lagi Islam, melainkan pro terhadap Amerika dan bahkan cenderung memusuhi Ideologi Islam.

Saking pentingnya perang pemikiran ini, sekretaris mentri pertahanan AS Wolfowitz merekomendasikan: ”saat ini, kita sedang bertempur dalam perang melawan teror, perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar yang kita hadapi adalah perang pemikiran, jelas suatu tantangan. Tetapi yang (ini) juga harus dimenangkan”. Bermacam sarana dan prasarana mereka gunakan, diantaranya dengan mengintervensi pendidikan, yakni mengatur kurikulum pendidikan yang berbasis sekulerisme, termasuk kurikulum-kurikulum pesantren yang sudah banyak digembosi melalui dana-dana bantuan yang mereka salurkan.

Peran Media Massa

Media massa punya kontribusi besar dalam mempengaruhi hati dan pemikiran masyarakat, kebanyakan media massa sekarang ini mayoritas dikuasai oleh kaum sekuler, itu bisa kita lihat dari wajah media massa itu sendiri yang cenderung bernuansa sekuler, baik dalam pemberitaan maupun muatan yang dihasilkan oleh media, seperti tayangan hiburan dan yang lain sebagainya.

Culumbus dan Wolf dalam tulisannya (Pengantar hubungan Internasional hal.186-187) mengatakan ” salah satu fungsi bisnis propaganda adalah memonitor, mengklasifikasi, mengevaluasi, dan mempengaruhi media massa. Para wartawan, kolumnis, komentator, dan pembuat opini yang dianggap bersahabat biasanya diundang ke kedutaan besar. Pihak kedutaan besar biasanya memberikan informasi eksklusif,bila perlu menawarkan bonus. Di negara-negara barat, peran dinas propaganda luar negeri sangat luar besar. Hal ini mengingat opini publik, kelompok penekan, dan media massa terlibat terus menerus untuk mempengaruhi kebijakan sebuah negara”.

Ariel Cohen Ph.d (pengamat) juga pernah merekomendasikan ” AS harus menyediakan dukungan kepada media lokal untuk membeberkan contoh-contoh negatif dari aplikasi syariah)”. Sedangkan ide-ide yang harus terus menerus diangkat ialah menjelekkan citra Islam: perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita,kebolehan suami untuk memukul istri. (Cheril Benard, Cicil democratic Islam, partners, resources, and strategies, the rand corporation halaman.1-24).

Yang harus di lakukan Umat Islam

Umat Islam sudah seharusnya mengambil langkah-langkah strategis untuk meminimalisir dampak-dampak negatif dari ”war on terroris” yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya ini. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh diantarannya:

Membina ummat, terutama para intelektualnya dengan pemikiran Islam yang Ideologis.
Menjelaskan kepada ummat secara umum atas kepalsuan ide-ide selain Islam (counter opini) seperti Kapitalisme, sosialisme, sekulerisme, pluralisme, Liberalisme Dst.
Melakukan dakwah yang bersifat politis dengan mengajak ummat untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Jika itu ksudah kita lakukan, maka Allah sendiri yang akan membalikkan makar sebagaimana tercermin dalm firman-Nya. Allah SWT berfirman: “Mereka membuat Makar dan Allah pun membuat Makar. Dan Allah itu Maha Pembuat Makar”. (QS. Ali Imran : 54).

Apapun bentuknya, tidakan teror yang menyelesihi syara’ jelas dilarang di dalam Islam, apalagi sebuah tindakan teror yang telah ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin memperburuk citra Islam. Satu hal yang perlu dicatat, perang melawan teroris berarti harus ada pelaku teror dan kejadian teror di tempat itu, jika tidak ada, alasan apa yang akan digunakan untuk memerangi teroris. Maka tidak heran lagi ketika ada salah seorang artis Holiwood yang mengatakan bahwa “G.W.Bush ada dibalik serangan WTC” beberapa tahun lalu yang telah dimanfaatkan AS untuk memerangi Teroris.

Amerika dan sekutunya merupakan kekuatan yang global, oleh sebab itu harus dihadapi dengan kekuatan yang global pula. Harapan bagi ummat Islam masih ada ketika pertolongan dari Allah datang melalui perjuangn kita dalam membentuk kekuatan yang luar biasa, yang mampu menandingi adidaya Amerika. Itulah Khilafah Islamiyah yang di janjikan. Wallahu a’lam bi ash shawab.

eramuslim
.com

Suara Pembaca Lainnya

Hukum Kain Sarung Sutera untuk Pria

Imam Ahmad dan Nasai meriwayatkan dari Abu Musa bahwa Rasulullah saw bersabda,”Dihalalkan emas dan sutra bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan bagi kaum prianya.”

Imam Ash Shon’aniy mengatakan bahwa hadits ini menjadi dalil terhadap pengharaman bagi kaum laki-laki mengenakan emas dan sutra dan keduanya dibolehkan bagi kaum wanita meski ada juga yang mengatakan bahwa sesungguhnya penghalalan emas bagi kaum wanita telah dihapus. (Subulussalam juz II hal 177 - 178)

Tidak dibolehkan bagi seorang lelaki menggunakan pakaian, celana, sarung atau sejenisnya yang berbahan sutra kecuali dalam keadaan darurat, seperti : bagi seorang lelaki yang tidak mempunyai pakaian atau celana selain dari yang terbuat dari sutra atau dirinya hanya memiliki sebuah sarung saja yang terbuat dari sutra untuk dikenakan dalam shalatnya sementara dirinya tidak memiliki celana atau sarung lainnya yang terbuat dari selain sutra untuk melaksanakan shalatnya maka dibolehkan baginya mengenakan sarung sutra tersebut dikarenakan darurat.

Islam juga membolehkan bagi seorang lelaki yang mengenakan sesuatu yang terdapat sedikit sutra didalamnya. Ukuran sedikit di sini adalah hanya sebatas dua atau tiga atau empat jari saja, demikian pendapat jumhur ulama berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Umar berkata,”Rasulullah saw melarang sutra kecuali sekedar ukuran dua atau tiga atau empat jari.” (Muttafaq Alaih)

Namun apabila pakaian, celana atau sarung yang dikenakan hanyalah sutra buatan pabrik bukan yang alami atau yang berasal dari ulat sutra maka dibolehkan karena pengharaman yang terdapat didalam hadits-hadits tentang permasalahan ini adalah terhadap sutra alami bukan buatan pabrik.

Pelarangan pengenaan sutra bagi kaum lelaki dikarenakan pakaian tersebut adalah pakaian ahli dunia sementara kelak Allah akan memakaikannya kepada kaum mukminin di surga-Nya, sebagaimana diriwayatkan dari Umar berkata,”Aku mendengar Nabi saw bersabda,”Janganlah kalian mengenakan sutra. Sesungguhnya siapa yang mengenakannya di dunia maka dia tidak akan mengenakannya di akherat.” Dari Anas bahwa Nabi saw bersabda,”Barangsiapa mengenakan sutra di dunia maka dia tidak akan mengenakannya di akherat.” (Muttafaq Alaih)

Dan firman Allah swt :

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ


Artinya : “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al Hajj : 23)

Wallahu A’lam

Ustadz Menjawab Lainnya

eramuslim.com